CHARLES DE FOUCAULD – Pahlawan Sahara

Posted by Lances On Monday, March 1, 2010 1 comments

Matahari telah tinggi bertahta di alam angkasa. Teriknya bukan kepalang. Tanah sekitarnya tandus, hanya pasir kering saja nampak membentang luas. Demikianlah Tuhan dahulu menciptakan padang gurun yang luas seperti di Afrika.

Di padang gurun kering inilah dia berjalan berhari-hari terbakar teriknya padang pasir. Sekarang ia kelihatan sangat lelah, jalannya terhuyung-huyung hampir tak kuasa lagi melanjutkannya.
Siapa dia itu sebenarnya? Dia orang Perancis yang menyamar. Namanya : Charles de Foucauld.
Sesungguhnya apakah kehendaknya, maka ia berada di daerah terlarang Maroko itu? Itulah tempat orang-orang yang sangat fanatik. Bila orang Kristiani sampai ke situ berarti dirinya terancam oleh penjara, siksaan dan mati. Apakah yang dilakukannya di daerah berbahaya tersebut? Mari kita simak ceritanya.
Sewaktu Charles masih kecil ia hidup di kota Strasbourg dengan ayah, ibu dan adiknya, Mimi. Ayahnya seorang bangsawan. Terhadap keluarganya Charles sangat cinta, terlebih kepada ibunya, yang mendidik Charles untuk mencintai Tuhannya.

Di rumah Charles ada sebuah altar kecil. Tiap-tiap malam ia berlutut di muka altar itu, berdoa. Kadang-kadang ibu senang mengajak putera-puterinya berjalan-jalan di luar kota, dan mereka senang mengumpulkan bunga, yang kemudian diletakkan dan dipersembahkan di bawah kaki Salib Suci di gunung Kalpari di Strasbourg.

Atau kerapkali memetik bunga-bungaan yang sangat harum untuk menghias Gereja. Demikian didikan ibunya terhadap anak-anaknya. Ia selalu mengingatkan mereka supaya cinta akan Tuhan, akan Yesus yang bersembunyi dalam tabernakel.

Tetapi sayang bagi Charles semua ini cepat berakhir. Tahun 1864 ia sudah tak beribu-bapa lagi. Waktu itu umurnya baru 6 tahun. Ia dan saudaranya sekarang harus ikut neneknya. Tetapi entah bagaimana ia dididik oleh neneknya, maka Charles lalu berubah sama sekali. Ia sudah tidak menghiraukan agamanya lagi. Di sekolah pun menjadi malas. Kelakuannya pun tidak menyenangkan, hingga ia pernah diancam akan dikeluarkan dari sekolah. Cita-citanya hendak menjadi seorang opsir, tetapi bukannya untuk menambah semarak negerinya. Tidak! Keinginannya sendiri saja yang selalu ia cari. Orang lain tidak dipedulikannya. Ia menempuh ujian masuk sekolah kemiliteran St.Cyrus.
“Nek, saya berhasil baik. Diterima. Tetapi pangkatnya rendah saja.” Demikian ia berkata kepada neneknya.
“Ah, kau Charles!” jawab neneknya kecewa.
“Tak mengapa, bukan? Sekarang memang masih rendah, tetapi kan banyak kesempatan untuk naik pangkat bagi orang seperti saya!”

Telah lama Charles tinggal di St.Cyrus; ia lalu pindah ke akademi taruna berkuda yang telah terkenal. Di situ hidupnya semakin tidak karuan, penuh dosa dan egois. Diri sendiri sajalah yang selalu ia pikirkan, bermabuk-mabukan dengan minuman keras dan berjudi. Tingkah lakunya sangatlah tidak baik, sehingga kerap ia dimasukkan kepenjara. Dalam keadaan yang demikian ini tentulah saudaranya dan keluarganya sangat mengkhawatirkannya : “Akan apa jadinya pemuda itu?”

Pada suatu ketika pasukan berkuda keempat, yaitu resimen dimana Charles ada, sudah waktunya bertugas di tanah Algeria untuk menjaga ketentraman disana. Dan sikap hidup Charles tidak berubah. Atasannya sangatlah benci melihat kelaukuan Charles, hingga pada suatu hari atasannya berkata : “Ah Charles, tak lain kerjamu kecuali menodai bendera Perancis! Kau harus meninggalkan jabatanmu, kembali ke Perancis!”
Dan ia pun kembali ke tanah airnya meskipun kelakuannya pun tidak berubah, sampai pada suatu hari , ada suatu peristiwa.

Ketika ia sedang dalam kamarnya duduk termenung-menung, masuklah dengan tiba-tiba seorang kawan : “Charles, suku di Algeria berontak sekarang. Resimenmu yang harus menghadapinya.”
“He, apa?” seru Charles kecewa. Segera mengambil pena dan kertas. Ia mengirimkan surat permohonan kepada menteri pertahanan : minta supaya ia diijinkan bergabung lagi dengan resimennya. Ia menyampaikan sesal dan minta dimaafkan karena kelakuannya yang demikian buruk itu : “Saya sangat sedih kalau teman-teman saya, para opsir dan serdadu-serdadu seperjuangan saya itu, bertempur, menderita dan gugur untuk bendera Perancis, sedang saya tidak diperbolehkan mati bersama mereka.”
Permintaannya diluluskan. Dan, ternyata bahwa ia sungguh-sungguh opsir yang jitu, berani dan bertekad. Ia kuat menahan kesukaran-kesukaran gurun pasir. Panas, haus, letih tiada dihiraukannya. Sebaliknya dengan hati gembira ia menahannya. Sikapnya selalu pantang mundur, dengan berani ia terjang segala bahaya. Segala perhatiannya dicurahkan untuk menjaga keselamatan anak buahnya. Sifatnya yang kasar itu : pemboros, penjudi telah hilang lenyap. Hidupnya bukan untuk dirinya sendiri lagi. Sekarang telah ia arahkan untuk kepentingan negaranya.

Pemberontakan telah dipatahkan. Charles kembali ke tanah Perancis. Di sana ia mendapat tugas dalam pasukan yang berada di dalam kota. Ia menganggap bahwa itu sangat membosankan. Charles telah tertarik kepada benua Afrika karena hubungannya dengan suku-suku bangsa padang gurun itu. Maka Charles meminta ijin untuk kembali lagi ke Afrika, dan mempelajari adat kehidupan mereka. Permintaannya itu ditolak dengan tegas.

“Bagaimana pun juga saya akan pergi!” demikian ia membuat putusan kepada teman-temannya. Segera ia minta berhenti dari jabatannya, meninggalkan hidup ketentaraannya, dan kembali ke Afrika Utara.
Setibanya di Algeria, ia memikir-mikirkan negara tetangganya, yaitu tanah Maroko. Penduduk negeri itu sangat benci kepada orang-orang Kristiani : yang berani masuk ke daerahnya diancam dengan siksaan yang berat dan pembunuhan. Charles telah mengerti hal itu semua, tetapi ia sangat ingin meninjau daerah itu.
Charles memikirkan jalan untuk dapat masuk menyelidiki. Tentu saja harus menyamar sebagai orang Yahudi, dan di samping itu sangat perlu juga mengetahui bahasa dan kehidupan orang Yahudi serta adat kebiasaan orang-orang Maroko.

Ia mulai bekerja. Dan pada saat bulan Juni 1883 Charles berangkat menyelidiki tanah Maroko dengan menyamar sebagai orang Yahudi. Charles mengerti apa artinya ia menyamar demikian. Ia tentu akan diperlakukan dengan kasar, dihinakan, dilempari batu, dan ia harus berjalan di sepanjang pasir dengan tidak memakai sepatu. Apalagi sekarang ia menyamar sebagai Yahudi yang sangat miskin, itu berarti ia harus tidur di tempat yang kotor. Makan sedikit dan tidak enak.

Sudah 11 bulan Charles melakukan penyelidikan. Pada suatu ketika Charles sedang berjalan dikawal tiga orang serdadu. Tetapi tiba-tiba dua orang dari mereka itu malahan menangkap dia, dan segala barangnya dirampas, satu setengah hari ia terpaksa ada di dalam tangan kedua orang serdadu itu, yang sebetulnya mereka adalah penyamun. Mungkin ia akan dibunuh. Tetapi akhirnya ia dapat kembali ke Perancis dengan selamat. Di sana ia diterima dengan baik oleh setiap orang. Setelah beberapa lama ia mulai menulis kisah perjalanannya itu, dan membuat buku tentang tanah Maroko, penduduk serta adat kebiasaannya. Ini semua menyebabkan namanya menjadi masyhur. Ia dihadiahi medali emas oleh lembaga ilmu bumi karena hasil karyanya sangat memuaskan, dan keberaniannya serta ketabahannya pantas dijunjung tinggi.

Tetapi ia sendiri tidak merasa tentram hidupnya, meskipun ia menjadi kenamaan dan kaya. “Saya tidak lagi beragama maka hidupku tidak dapat menjadi tentram dan bahagia. Bagaimana! Orang Maroko itu sangat percaya kepada Allah, meskipun mereka itu kejam sekali. Orang Yahudi begitu juga meskipun kelakuan mereka itu tiadak senonoh. Tetapi saya tidak beriman. Tidak berTuhan.” Jiwa Charles merasa kesepian karena kepercayaan akan Penebus yang sudah wafat demi kepentingannya, telah hilang.
Pada suati hari Charles menjumpai seorang Imam di kamar pengakuan, katanya : “Saya datang untuk meminta petunjuk. Saya sudak tidak beriman.”
“O, berlutulah dan akukanlah segala dosamu, dan kamu akan percaya kepada Tuhan lagi.” Charles menurut. Segala dosanya yang telah dilakukan dalam hidupnya yang menyedihkan itu diakuinya kemudian ia menyambut Sakramen Mahakudus.

Sejak itu hidup Charles berubah. Dahulu ia hidup hanya untuk dirinya sendiri, sekarang hidupnya menjadi penebus segala dosanya, dan akhirnya datanglah hari bagi Charles untuk melepaskan segala kemasyhurannya.

Di atas puncak pegunungan tanah Perancis yang tinggi ada sebuah biara yang disebut : “Biara Perawan Maria dalam salju”. Charles ingin menjadi seorang biarawan, maka ia melamar untuk menjadi warga biara tersebut.
“Apa pengalaman saudara?” tanya Pater kepala biara kepada Charles.
“Saya belum begitu berpengalaman, Pater,” jawabnya dengan rendah hati.
“Kalau begitu,” jawab Pater kepala.
“Baiklah kamu belajar memegang sapu. Kami ingin mengetahui dahulu bagaimana pengalamanmu dalam memegang sapu.”

Demikian Charles mulai bekerja dengan sapu, dan melakukan tugas yang rendah lainnya dengan senang hati. Ia menjadi seorang biarawan Trapis. Hidupnya adalah hidup yang sangat berat. Hidup berdoa, bekerja keras dan berpantang.

Tujuh tahun ia hidup sebagai biarawan Trapis. Banyak berdoa untuk orang-orang kafir. Charles ingin menolong mereka ini. Demikianlah semangatnya. Tetapi dalam waktu itu juga didengarnya suara dari dalam hatinya : “Pergilah masuk padang kesunyian!”
Charles sama sekali belum tahu bagaimana ini mungkin. Setelah tujuh tahun itu sesungguhnya Charles sudah mau mengucapkan kaul akhirnya. Tetapi ini tidak terjadi. Ia keluar dari biara. Ia keluar tidak karena merasa berat dalam melakukan tugas hidupnya, tetapi karena Charles merasa mempunyai panggilan istimewa. Charles menuju tempat suci, tempat Tuhan dulu hidup, di sana mungkin ia akan mengetahui panggilannya dengan lebih jelas.

Di kota Nasaret terdapatlah sebuah pertapaan suster-suster Klaris. Pada suatu hari para suster ini melihat seorang asing yang sedang berlutut di kapel. Lama orang itu berada di sana. Para suster menjadi sangat bingung dan risau hatinya.
“Mungkin ia seorang pencuri, yang menunggu kesempatan,” demikian pikir seorang dari mereka. Tetapi orang itu tidak lain hanyalah Charles, yang sedang berdoa.
Charles minta agar ia diterima sebagai pelayan Susteran. Dan itu juga dikabulkan. Di situpun Charles berat hidupnya. Ia harus mengerjakan banyak pekerjaan yang menjemukan. Ia tidur di kamar bekas gudang. Hanya berbantalkan sebuah batu dan dua buah papan sebagai alasnya. Di tempat tinggal yang sedemikian itu Charles berdoa, belajar dan berpantang.

Lama Charles tinggal di situ. Lambat laun makin jelaslah baginya apa kehendak Tuhan. Ia harus tetap hidup sebagai pertapa. Tetapi ia juga harus menjadi seorang Imam. Ia harus menjadi seorang Imam pertapa di gurun Sahara, supaya Misa Kudus dapat dipersembahkan juga di situ dan Sakramen Mahakudus dimuliakan di tengah-tengah Sahara. Di situ ia harus berusaha mengertikan orang Sahara akan Tuhan Yesus, yaitu dengan hidup sebagai Yesus sendiri, hidup rendah hati, melarat, dan cinta sesama.
Charles kembali ke biaranya yang semula di Perancis. Ia mengaturkan itu semua kepada Pater kepala biara. Charles melanjutkan pelajarannya di situ, dan pada akhir tahun ia ditahbiskan menjadi Imam. Pada pentahbisannya itu hadirlah saudara perempuan Mimi. Ia ingat ketika mereka itu masih kecil senang menghias altar dengan bunga-bunga yang indah-indah. Dan sekarang alangkah gembiranya mengenang saudaranya yang yang telah menjadi seorang Imam di altar. Charles segera berangkat menuju Afrika. Disitulah ia akan mempertaruhkan segala nasibnya.
 
Di gurun banyak terdapat wabah (Oase). Satu diantaranya bernama Beni Abbes. Daerah itu terletak di tanah orang-orang Tuareg yang sangat bengis. Dan tanah ini menjadi jajahan Perancis. Maka terdapatlah di Beni Abbes suatu benteng tempat serdadu-serdadu Perancis bertugas di situ. Charles memilih tempat ini untuk menjalankan tugasnya. Setelah sampai di Beni Abbes, Charles segera membeli tanah, dan didirkannya sebuah gereja kecil dari batu dan tanah. Ia membuat gambar Stasi Jalan Salib dengan amat indahnya, lalu didirikannya pula beberapa rumah untuk sakristi, kamar tamu, dll. Akhirnya dibuatnya tembok berkeliling, dan lengkaplah pertapaannya. Demikian selesailah sudah pekerjaannya dan mulailah ia bekerja menuaikan tugasnya yang lebih luhur.

Dalam pekerjaannya Pater Charles selalu ramah. Dengan cinta kasih melayani setiap orang. Demikian pertapaannya selalu penuh dengan orang-orang dan para serdadu yang datang hendak minta nasehat. Orang Arab yang mengembara, budak-budak yang tidak sedang bekerja, senang berkumpul di situ. Ada juga orang banyak datang minta pertolongan karena sakit. Ia memberi makan pada mereka ini semua, dan merawatnya sebaik mungkin. Ia mengajar tentang cinta kepada Tuhan dan kasih Tuhan kepada manusia. Kerapkali di pertapaannya datang lebih dari enam puluh anak-anak orang Arab. Ia berharap sekali akan dapat mengertikan mereka tentang Penebusnya. Tetapi orang-orang tua mereka, orang yang sangat fanatik, menolak tidak memperbolehkan anak-anak mereka diberi pelajaran.

Pada suatu hari Pater Charles mendapati seorang anak kecil di kamar tamu. Ia bercakap-cakap dengan anak itu dan tahulah ia bahwa anak ini baru berumur tiga belas tahun, dan telah enam tahun menjadi budak. Kecuali itu juga mengetahui bahwa anak ini mengerti sedikit tentang agama Katolik.
“Inginkah kamu tinggal di sini dengan saya?” tanya Pater Charles.
“Dengan senang, Pater,” jawab anak itu dengan penuh kegembiraan. Lalu ditebusnyalah anak itu dari tuannya dengan semua uang miliknya. Tak lama lagi anak itu dipermandikannya dengan nama Petrus. Tetapi sayang, Petrus kelihatan jelek kelakuannya. Petrus senang berbuat apa-apa yang tidak boleh diperbuat. Dan pada suatu hari ia mengatakan bahwa ia ingin pulang. Charles mengembalikan anak ini kepada orang tuanya dengan amat sedihnya.

Belumlah membawa hasil usahanya. Tak seorang pun menjadi Katolik kecuali seorang perempuan negro yang sudah tua. Tetapi tidaklah ia pantang mundur. Pater Charles menjadi termashyur dihormati di seluruh padang gurun Sahara karena jasa-jasanya.. Tetapi orang-orang tetap tidak mau kenal akan Tuhan Yesus... “Kalau demikian saya harus lebih erat berhubungan dengan orang-orang itu lagi, supaya mereka lebih mudah dapat mengerti akan Yesus,”pikir Charles.

Timbulah kesempatan pula. Pada tahun 1904 dikirimkan serdadu-serdadu Perancis untuk menjaga ketentraman di pedalam tanah Tuareg, yaitu di dataran tinggi Hogger, yang terletak di gurun Sahara, 600 mil dari Beni Abbes. Charles turut para serdadu itu. Di sana ia dapat mempelajari bahasa dan adat kebiasaan bangsa Tuareg. Tetapi sewaktu para serdadu kembali, Charles tinggal, tak turut bersama mereka. Ia mau sendirian hidup di gurun Sahara luas di antara orang-orang biadab buas, yang hidupnya hanya merampas, berperang dan membalas.

Charles mendirikan sebuah pertapaan kecil di desa mereka, yaitu di Tamanrasset. Ia selalu berpantang, bersembahyang, ramah, lembut dan rendah hati. Ia menjadi sahabat dan penasihat bangsa yang masih biadab itu. Ia pergi ke sana ke sini, sedia membantu, apa yang mereka kerjakan. Ia memlihara, turut merasakan apa yang mereka alami. Ia menyembuhkan orang sakit. Mengajar orang bertani, dan mengajar perempuan merajut. Orang-orang Tuareg membalas akan kebaikannya, berkali-kali menunjukkan cinta kasihnya. Pada suatu hari ketika Charles jatuh sakit, dan orang-orang Tuareg itulah yang merawat dan mengembalikan lagi kekuatannya. Pada waktu lain Charles terdapat pingsan oleh seorang suku Tuareg. Ia segera memberitahukannya ke seluruh desanya. “Marabout (orang baik) digigit ular berbisa.” Segera berlarilah orang-orang ke tempat Charles dengan ketakutan, karena gigitan ular itu sangat membahayakan. Dengan cara yang ngeri mereka mengobatinya. Besi yang di panaskan ditaruh pada lukanya dan kakinya sehingga melepuh. Demikian ia menjadi lemah dan lama tak dapat berjalan. Tetapi akhirnya ia sembuh juga dari gigitan ular berbisa.

Charles besar pengaruhnya. Kerap ia bertindak sebagai jaksa terhadap orang Tuareg. Para pemimpin dan orang terkemuka kerap meminta nasehat kepadanya. Tetapi meskipun demikian ia belum berhasil mentobatkan seorang pun. Kekecewaan yang pahit dirasainya. Lima belas tahun bekerja, belumlah berbuah.
Harapan, permohonan, doanya belumlah terjawab. Tak seorang pun yang dapat dipermandikannya. Seorang saja, yang tinggal bersamanya untuk mencoba turut dalam panggilannyapun, tidak jadi. Hidupnya dirasakannya terlalu berat.

Pecahlah Perang Dunia I, tahun 1914. Perang menjalar sampai Afrika Utara. Dan timbullah ajak dorongan : “Sekarang datanglah kesempatan untuk membunuh semua orang Kristiani!”

Waktu malam hari Pater Charles hanya seorang diri saja dalam pertapaannya di Tamanrasset. Langkah kaki orang-orang semakin mendekat. Tetapi Pater Charles tidak mengerti bahwa ia telah dikepung. Pintu diketuk. Seketika itu juga dibuka. Mendadak sekali segerombolan orang Tuareg, yang tidak ia kenal sama sekali, menyerbu ke dalam kamarnya. Pater Charles lalu tahu bahwa saat akhirnya telah tiba. Ia berlutut dan berdoa. Ia diikat dengan ganasnya, dan akhirnya ditembak mati. Dan dalam waktu yang bersamaan orang-orang kejam itu membunuh pula dua orang serdadu Arab yang bermaksud pergi kepertapaannya itu. Dengan tanpa peduli, ketiga jenasah itu dilemparkan ke dalam parit seperti melemparkan binatang saja layaknya.

Pater Charles memang telah lama merindukan pengorbanan jiwanya sebagai seorang martir. “Alangkah indah dan bahagianya mati dianiaya.” Demikian pernah ia berkata. Dan sekarang tahulah sudah ia betapa bahagianya mati menjadi saksi kebenaran. Sebagai Tuhan Yesus dahulu wafat dibunuh oleh bangsa yang sangat Ia cintai, demikian sekarang Pater Charles dibunuh oleh orang-orang Tuareg yang sangat ia cintai, dan yang tidak sedikit menerima korban dan pertolongan dari Pater Charles.

Setahun kemudian Jendral Laperrine bermaksud memakamkan teman sejawatnya itu dengan upacara Katolik yang layak. Maka jendral Laperrine lalu mencari mayat Charles di sekitar biara. Dan alangkah terkejutnya ketika ia dapati, bahwa tubuh Charles masih utuh, sedang tubuh kedua serdadu yang berada di dekatnya tinggal beberapa tulang yang berserakan saja.
“Mengapa tuan Jendral demikian kagum? Bukankah Pater Charles Almarhum itu seorang yang suci?” demikian kata seorang serdadu Arab, mengingatkan jendral Laperrine.

Dan tahun 1933 berdirilah suatu kongregasi baru, yaitu Biarawan Bruder-Bruder Yesus, yang bertujuan mengikuti jejak Pater Charles de Foucauld. Biarawan inilah yang meneruskan perjuangan Pater Charles, bekerja di antara orang-orang yang masih miskin jiwanya demi Tuhan Yesus.
Dan pada tahun 1949 Bruder Yesus ini diikuti pula oleh perkumpulan Suster-Suster Yesus yang selalu sedia dengan rendah hati bekerja di tanah Afrika. Bruder-bruder dan Suster-suster Foucauld, dan mereka berhasil mengumpulkan panen yang ditanam oleh Pahlawan Sahara itu.


Di Dardilly, di sebuah desa di tanah Perancis – letaknya tak berjauhan dengan kota Lyon – diamlah suatu keluarga petani Pierre Vianney; isterinya bernama Marie Charavay.
Pada tahun 1786 – yaitu tiga tahun sebelum revolusi Perancis (1789) – pada tanggal 8 Mei, lahirlah dari keluarga Vianney itu seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Jean Marie Baptiste. Berkat asuhan sang ayah dan ibu, anak itu menjadi besar, sampai datang kepada usianya untuk masuk sekolah.
Tetapi setelah datang waktunya bersekolah, maka Vianney yang masih kecil itu tak dapat bersekolah oleh karena waktu itu adalah waktu revolusi; dengan kata lain : waktu perang. Maksud untuk menyekolahkan Vianney kecil itu terpaksa tertangguh beberapa tahun. Apakah akibatnya? Vianney itu baru mendapat kesempatan untuk bersekolah ketika umurnya sudah sembilan tahun. Ia mengikuti pelajaran pada sekolah yang letaknya jauh dari tempat kediaman orang tuanya. Oleh karena jauhnya, maka ia memondok di rumah bibi Marguerita.

Vianney adalah seorang murid yang rajin dan giat belajar. Ia selalu dipuji oleh gurunya karena rajinnya dan perhatiannya kepada pelajaran, terlebih pelajaran Katekismus. Tingkah lakunya tak dapat dicela. Bukan saja di sekolah ia menunjukkan adat kebiasannya yang baik, tetapi di segala tempat pun ia tetap melaksanakannya. Di rumah bibinya ia selalu bekerja, menolong pekerjaan di rumah dengan rajin dan kerap kali ia berkorban banyak dengan jalan berpuasa atau melawan nafsunya atau keinginannya yang kecil-kecil. Begitulah hidupnya sehari-hari.
Apa yang terjadi? Tuhan memanggilnya untuk menyerahkan dirinya guna mengabdi pada Dia ... Dia yang maha kuasa ... dan Vianney menyerahkan segenap hidupnya untuk keselamatan jiwa orang-orang. Ia mau menjadi Imam.

Ketika umurnya 19 tahun, ia masuk Seminari Menengah. Karena Vianney itu murid yang tertua di Seminari menengah, maka mulai nyata bahwa Vianney agak terbelakang dalam mempelajari bahasa Latin. Ia menemui banyak kesukaran dalam mempelajari bahasa tersebut. Ia mulai membayang-bayangkan kebun ayahnya yang indah-indah, penuh dengan tumbuh-tumbuhan yang subur, yang menyegarkan mata, yang menyebabkan ia ingin menjauhi pelajaran. Ia ingin pulang ke rumah dan keladang orang tuanya.
Sedang ia mengangan-angankan ini, datanglah seorang Imam kepadanya, sambil berkata : “Kau mau jadi apa, nak?” Vianney tidak menjawab apa-apa. Lalu gurunya itu berkata : “Kalau kau mau pulang, itu berarti cita-citamu akan lenyap, Selanjutnya lebih baik kau berkata selamat tinggal Imamat! Dan selamat tinggal jiwa-jiwa manusia yang akan saya tolong.”

Perkataan ini sangat menggerakkan jiwa dan sanubari Vianney, lalu pikirnya : “Tidak, tidak ... bukan begitu. Tuhan tidak akan senang dengan kelakuanku yang begitu itu.” Ia tetap bersembahyang. Akhirnya selesai juga masa siswanya di Seminari menengah, dan melanjutkan pada Seminari Tinggi.
Kepandaiannya dibandingkan dengan teman-teman mahasiswa di Seminari, adalah amat kurang. Tetapi kelakuan, kerajinan dan ibadatnya selalu yang terbaik, sehingga ia dapat menyaingi teman-temannya dan berhasil menamatkan sekolahnya dengan baik. Waktu berumur 29 tahun ia ditahbiskan menjadi imam. Sekarang Vianney menjadi Pastor di Ars.

Ars adalah sebuah kota yang sepi, letaknya kira-kira 30 kilometer dari kota Ecully. Jalan ke Ars agak jelek. Terpaksa ia berjalan kaki ke sana. Beberapa perabot rumah, tempat tidur kayu dan buku-buku diangkut dengan sebuah pedati. Pagi-pagi benar lonceng Gereja di Ars dibunyikan, artinya ada Pastor baru yang datang. Semua orang berkata : “Kita mendapat seorang Pastor baru, lihatlah!”
Akan tetapi hati mereka kecewa ketika melihat Pastornya yang bertubuh kecil dan kurus itu.
Di kota ini banyak benar perbaikan-perbaikan dan jasa-jasanya yang dapat ditunjukkannya. Pastor Vianney adalah satu-satunya orang sosiawan yang ulung; Vianney mendirikan sekolah-sekolah, rumah sakit, rumah piatu dan lain-lain lagi. Rumah Gereja yang telah rusak diperbaikinya. Tetapi yang termulia lagi yang diperbaikinya adalah rumah-rumah tempat Roh Kudus : yaitu Jiwa Manusia. Orang tua-muda, besar-kecil, laki-laki, wanita, yang ahlaknya mulai dan sudah agak merosot, dibawanya ke arah kebaikan hidup yang sewajarnya. Makin lama, makin banyak orang yang mau datang ke Ars, perlu mengunjungi Pastor Vianney dan mengakukan dosanya supaya diampuniNya. Setan tidak senang akan kemajuan ini!

Pada suatu malam terdengar gaduh yang amat sangat di loteng Pastoran. Pastor Vianney berkata kepada dirinya : “Apakah agaknya bunyi itu? Mungkin ada pencuri!” Juga di halaman terdengar pekik dan teriakan. “Ah, apakah gerangan bunyi-bunyian itu?” Lekas-lekas pastor pergi ke atas akan menyelidiki apakah sebenarnya telah terjadi. Ternyata tidak ada apa-apa! Mulailah ia menjadi takut untuk tinggal sendirian dalam rumah. Untuk teman, dipanggilnya Andre, anak seorang tukang kereta yang berumur 28 tahun, supaya tidur di Pastoran pada malam hari. “Aku senang datang, Pastor! Nanti kusiapkan senapanku,” kata Andre. Si Andre menceriterakan pengalamannya pada malam itu :
-Waktu sudah malam, saya menuju ke Pastoran. Pukul 10 berkatalah Pastor : “Mari kita tidur sekarang.” Aku disuruhnya tidur dalam bilik muka. Pastor tidur di bilik belakang. Tak dapat saya tidur. Perasaan saya
tidak enak. Selalu merasa gelisah, seakan-akan ada sesuatu yang akan terjadi. Memang ... betul sangkaku.

Tepat pada jam satu tengah malam, kedengaranlah olehku gaduh di pintu luar. Rupanya ada orang yang mau merusakkan kuncinya. Pintu itu dipukulnya keras-keras sehingga di dalam rumah terjadilah keributan yang bukan kepalang. Seolah-olah guruh gaduhnya, di mana-mana bunyi berderak-derik kedengaran. Kuambil senapan dan aku lari kejendela. Kubuka jendela itu ... Tak ada apa-apa. Tetapi rumah masih tetap bergerak, bergetar kira-kira seperempat jam lamanya. Kakiku pun gemetar. Hingga delapan hari kemudian seolah-olah kakiku masih terasa gemetar. Waktu kegaduhan itu mulai, Pastor memasang pelitanya. Ia datang kepadaku. “Ada mendengar apakah engkau?”katanya. “Tuan Pastor sendiri dapat menyaksikan, bahwa saya telah bangun dan memegang senapan. Rumah ini goncang, seakan-akan ada gempa bumi!”
“Kau takut?” bertanya Pastor pula. “Tidak, tetapi kurasa kakiku gemetar. Pastoran ini rupanya akan roboh. Itu mungkin setan!” Akhirnya gaduh berhenti, dan kami pun dapat tidur pula. Keesokan harinya datanglah pula Pastor katanya : “Sanggupkah lagi kau menemani saya?” Jawabku : “Saya tak sanggup lagi, tuan Pastor!”-

Begitulah Pastor Vianney tinggal sendirian dalam Pastoran dan diganggu oleh setan. Gangguan setan terhadap Pastor Vianney adalah sangat lama. Lamanya sampai 35 tahun.
Kemudian ternyata bahwa serangan-serangan setan itu menandakan bahwa ada pendosa berat yang bertobat dan akan datang mengakukan dosanya. Makin banyak pendosa yang bertobat, makin hebat gangguan setan. “Memang setan itu bodoh,’ kata Pastor Vianney, “Karena kalau ada serangan setan, aku sangat bergembira. Besok ada pula pendosa akan bertobat. Aku senang. Setan itu tentu marah! Baiklah begitu saja!”
Tiap-tiap musafir merasakan keheranan pada pertemuan yang pertama kali dengan Pastor Vianney.

Keindahan jiwanya terbayang pada roman mukanya. Keindahan itu tentu tidak kelihatan, kalau ia bukan seorang yang suci. Pastor Vianney berbadan kecil, mukanya kurus, tinggal sisa kulit pembalut tulang. Mukanya agak kuning keemasan, karena banyak duduk di tempat pengakuan; mukanya telah beralur-alur, karena hampir tak mengenal tidur. Rambutnya yang kasar disisir kebelakang, sampai jauh ke tengkuk, hampir menjadi putih semuanya. Matanya yang biru menyinarkan kegembiraan yang luhur. Penglihatannya yang terang dan tajam, seolah-olah dapat menyelami jiwa manusia. Badannya kurus kering, urat-uratnya timbul karena seringnya berpuasa. Namun sampai akhir hidupnya segala pancaindera dan kekuatannya tetap utuh sehingga sanggup menjalankan kewajibannya. Dahinya dan penglihatannya membayangkan isi jiwanya ialah kesederhanaan, perasaan halus, dan kebaikan hati.
Belum pernah terdengar bahwa Pastor Vianney melawan hukum kasih. Sifat Pastor Ars adalah luhur dan suci.

Perkataan Pastor Raymond menyaksikan banyak tentang sifat-sifatnya yang baik. Beliau berkata : “Yang sangat menggerakkan hatiku yaitu sifat Pastor Vianney terhadap puji-pujian yang terus menerus disampaikan kepadanya. Ia tetap rendah hati meskipun pujiab sebanyak itu tentu memabukkan kalau ditujukan kepada orang lain. Pastor Vianney sungguh yakin bahwa musafir-musafir yang datang ke Ars, hanya untuk melihat dia dari dekat. Meskipun demikian belum pernah saya melihat kesombongan hatinya atau mendengar perkataan yang angkuh. Katanya : aku hanya sebuah alat di tangan Tuhan.Segala pujian harus disampaikan kepadaNya, bukan kepadaku.”

Pakaian Pastor Vianney selalu sederhana tetapi bersih dan lengkap. Ia tak pernah mengenakan pakaian yang mahal. Orang pernah membelikan jas yang mahal baginya, tetapi diberikannya kepada orang miskin. Rumahnya pun bersahaja juga. Seorang yang bernama Jean Marie Chavay memberikan sepasang sepatu baru kepada Pastor Vianney. Betapa besar keheranannya melihat, banhwa Pastor itu masih memakai sepatu tua yang sudah usang. Pastor Vianney berkata : “sayang saya lupa membuang sepatu-sepatu tua itu.”
Dengan marah Chavay bertanya : “Sudahkah kau berikan yang baru itu pada orang miskin?” “Tentu saja begitu,” jawabnya dengan tenang. Pastor Ars itu pecinta orang miskin.

Lama-kelamaan ada tanda-tanda ajaib terjadi. Di antara orang-orang yang berjejal akan mengaku dosa, ada seorang suster bernama Dosithee. Ia berpenyakit paru-paru yang hebat dan menurut keputusan dokter penyakitnya tidak akan sembuh lagi dan pasti akan mati. Sebelum sampai gilirannya akan mengaku dosa, ia dipanggil oleh Pastor Vianney supaya datang lebih dahulu untuk mengaku. Ia bertanya : “Kenapa suster mau sembuh?” Suster mengatakan sebab-sebabnya. “Silahkan sekarang pergi ke Kapel St. Philomena. Mintalah kesembuhanmu disana, sedang aku akan berdoa untukmu.” Suster Dosithee pergi berdoa ke tempat itu. Setelah itu segera terasa badannya sudah sembuh kembali. Umurnya pada waktu itu baru 25 tahun. Semenjak tanda yang ajaib ini terjadi, suster Dosithee masih hidup hingga umur 89 tahun.
Tanda ajaib yang lain lagi ialah : seorang puteri bernama Claudine menjadi buta dan tuli karena demam otak. Anak yang malang ini tidak dikenal oleh Pastor Vianney. Ia berdiri dengan orang banyak di muka Gereja.

Waktu itu Pastor Vianney lalu kesitu. Waktu beliau lihat anak itu, dipegangnya tangan anak itu disuruh mengaku dosa. Baru saja menerima berkat Imam, maka mata gadis itu mulai terbuka dan telinganya mulai mendengar seperti dahulu. Disangkanya bahwa ia baru sadar dari mimpi yang panjang. Setelah pengakuan dosa selesai, Pastor Vianney bernubuat : “Matamu telah sembuh.” “Tetapi kau akan menjadi tuli pula selama 12 tahun lamanya. Inilah kehendak Tuhan.” Claudine meninggalkan tempat pengakuan. Telinganya mulai tertutup lagi dan tak mendengar apa-apa lagi.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 1 Februari 1850. Tepat 12 tahun kemudian ia sembuh.
Masih banyak tanda ajaib yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, atas permintaan Pastor Vianney.
Pastor Vianney menjadi tua. Sebenarnya badannya sudah lemah sebab hampir mendekati ajalnya. Namun, kebiasan-kebiasannya dipertahankanny. Berpuasa, tidur sedikit, tempat tidurnya keras. Meskipun sudah lelah, masih juga tetap mendengar pengakuan dosa pada waktu-waktu tertentu. Kelemahan, kelelahan dan keletihan badannya karena sudah tua tidak terlihat oleh orang banyak yang berziarah ke Ars.
Perayaan hari Paskah 24 April 1858, Pastor Ars dikerumuni oleh orang-orang Katolik Paroki, tua-muda, besar-kecil. “Anak-anakku, betapa indahnya pekerjaan kita. Kita sekalian telah memenuhi kewajiban kita dalam Gereja. Tuhan mendapat rumah dalam hatimu. Tidak lama lagi rumah Gereja baru, yang kamu usahakan bagiNya selesai. Tuhan minta, kamu harus memberikan. Kalau aku minta apa-apa, kamu memberikan juga. Kuucapkan terima kasih. Masih ada orang-orang berdosa di paroki kita. Tetapi aku pergi supaya orang lain dapat menjadikan mereka bertobat.!” Inilah kata-kata perpisahan Pastor Vianney yang mengetahui bahwa ajalnya makin dekat.

Sejak hari Jumat 29 Juni 1859 Pastor Vianney merasa sakit. Keluar dari Gereja dan Pulang ke Pastoran harus dituntun. “Pastor yang suci!” kata mereka itu kepada yang lain.
Tengah malam Pastor Vianney jatuh sakit payah. “Inilah saat kematianku; panggil Imam pengakuanku!” katanya.

Pada keesokan harinya pagi-pagi benar, dokter didatangkan. Sudah terlamapu lemahnya. Tak dapat lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan. “Kalau panas hari ini berkurang, masih ada harapan; kalau panasnya tidak turun kita akan kehilangan Saudara Vianney. Masih banyak orang-orang musafir datang berduyun-duyun ke Pastoran Ars.

Betapa kesal hatinya mendengar Pastor Vianney sakit dan tak akan kelihatan hari itu Hanya beberapa orang yang diizinkan olehPastor Vianney untuk mengaku dosa di kamar tidur. Hari Sabtu keesokan harinya, makin banyak juga orang yang mencari Pastor Vianney untuk mengaku dosa. Seluruh penduduk kota Ars mengusahakan sedapat mungkin dengan jalan apapun supaya Pastornya tercinta dapat sembuh. Ada yang berembahyang, ada yang menyejukkan hawa di Pastoran. Ia menerima sakramen-sakramen terakhir. Betapa baik Tuhan; kalau manusia tak dapat pergi kepadaNya, maka Ia sendiri datang kepada kita.

Hari Kamis 4 Juli. Hari sudah jauh malam. Imam muda bernama Monnin membaca doa untuk orang yang akan mati. “Semoga Malaikat-Malaikat datang menyongsong dia dan menghantarkannya ke Jerusalem yang kekal.” Dengan ucapan doa itu sampailah ajalnya. Jiwa Joanes Maria Vianney meninggalkan badannya yang sudah tua, kembali kepada Tuhan. Pada saat itu ribut dan hujan lebat memecah diangkasa kota Ars.


SANTO GERARDUS MAYELLA (Saint Gerard Majella)

Posted by Lances On Thursday, February 4, 2010 0 comments

Muro letaknya 20 mil di sebelah Selatan Kota Napoli. Di sini hidup keluarga Mayella yang amat dihargai penduduknya. Dominicus Mayella seorang penjahit yang rajin, cekatan dan jujur. Benedicta Gallela, isterinya selalu bersedia untuk membantu siapa saja. Tiada heran minat besar meliputi keluarga itu, ketika pada tanggal 23 April 1726 lahir anak mereka yang kelima – Gerardus namanya.

Ketika Gerardus kecil berumur 5 tahun, ia sudah berani menempuh seorang diri jalan sempit, yang melalui bukit-bukit terjal, menuju Kapel Bunda Sorgawi dari Capotignamo. Di kapel ini mulailah anugerah yang melimpahi kehidupan Gerardus Mayella.

Pada suatu hari, sekali lagi Gerardus kecil sedang berlutut di hadapan patung Bunda Maria yang mengendong Anaknya. Tiba-tiba kanak-kanak Yesus meninggalkan gendongan ibuNya akan bermain-main dengan Gerardus. Setelah lama bermain Gerardus diberiNya sebuah roti putih halus sekali. Kegirangan menerima hadiah itu, Gerardus mendapatkan ibunya yang bertanya :

“Dari mana kau terima roti ini?” tanya Benedicta.
“Dari putra Nyonya yang paling cantik,” jawab Gerardus, dan berlarilah ia.

Sejak hari itu seperti ada magnet yang selalu menarik Gerardus kecil ke Capotignamo. Betapa terkejut ibu Benedicta ketika pada suatu senja melalui kapel Bunda Sorgawi, Gerardus berseru : “Itulah Nyonya yang selalu memberi roti kepadaku, ibu!”
Ketika Gerardus kecil berumur 6 tahun, tibalah waktunya ia harus bersekolah. Kini terikat waktunya, dan Gerardus pun seperti kebanyakan anak menangisi masa kecilnya yang tidak lagi sebebas dulu. Tapi segeralah ia tertarik oleh mata pelajaran yang makin membukakan budinya yang terang. Dan para guru mempergunakan bakat murid yang pandai dengan memberinya tugas untuk membantu teman-teman lainnya yang bodoh.

Ketika itu juga Gerardus mulai mengubah sifatnya yang pendiam. Berulang-ulang Gerardus mencoba menyertai teman-temannya dengan maksud akan membujuk mereka pada saat yang tepat. Akan mengajak mereka mengejar yang luhur demi Kasih Tuhan. Ya, meski masih sangat muda Gerardus sadar bahwa ajakannya tidak akan berhasil bila tidak dibantu dengan pengorbanan. Demikian acap kali terjadi Gerardus menyakiti dirinya sendiri dengan sebuah cemeti, agar berhasil bila usahanya diarahkan terhadap seorang teman yang sungguh-sungguh bertabiat buruk. Ibu Benedicta mengamat-amati tingkah anaknya. Maka sadarlah ia bahwa Gerardus dilahirkan semata-mata untuk kerohanian.

Keluar dari Sekolah Rakyat Gerardus terpaksa menolong ibunya mencari nafkah karena ayahnya baru-baru saja meninggal. Begitu Gerardus menjadi pelayan seorang penjahit, sekalian akan belajar menjahit juga. Seluruh jiwanya berkabung, betul-betul segan Gerardus akan pekerjaan itu. Tapi sedikitpun perasaan jemu tidak membayang keluar, Dengan rajin Gerardus bekerja, sementara tangannya menjalankan jarum turun naik, hatinya tiada putus berdoa.

Tidak heran pula majikannya, Pannuto, berhati besar. Hanya seorang mandor pelayan rupanya benci akan Gerardus. Kepatuhan dan kerajinan anak itu, yang seakan-akan mengejek kelakuannya yang kurang tertib, sangat menjengkelkan hatinya. Sebab itu ada saja tuduhannya terhadap Gerardus. Bahkan kadang-kadang berangnya memuncak, hingga tak tertahan lagi olehnya. Maka ditamparinya Gerardus yang sebernarnya tidak bersalah.

Sekali peristiwa ia menyodok Gerardus dengan kepalan tinjunya, hingga Gerardus jatuh pingsan sebentar. Ketika itu juga Pannuto masuk. Terperanjatlah ia melihat kejadian itu, dan mandornya dengan gugup berkata : “Aku tidak melihat apa yang terjadi, biarlah ia yang menjawabnya :
“Tuan.” Sahut Gerardus lemah lembut, “Saya terjatuh dari meja.”

Dengan merahasiakan kejadian yang sebenarnya terjadi, Gerardus dapat menghindarkan hukuman berat bagi algojonya tersebut. Namun mandor bengis itu tiada terharu, malahan terus menaruh dendam terhadap Gerardus, sambil menyakitinya setiap mungkin. Untung lama-kelamaan Pannuto mengetahui kekejaman mandornya. Segera dipecatnya agar Gerardus dapat terlindung.
Banyak yang Gerardus buat untuk Pannuto, secara istimewa, hanya karena kekuatan doanya. Lumbung terbakar yang telah berkobar, padam sekaligus ketika Gerardus mengenyahkan nyalanya dengan tanda salib. Berupa-rupa keinginan Pannuto yang belum disebut pun telah dikerjakan Gerardus, tanda ia dapat menerka pikiran orang.

Pada suatu hari Pannuto sangat gugup. Pakaian yang dijahit tadi agaknya salah gunting, sebab itu sama sekali tidak sesuai dengan ukuran badan pemesannya. Gerardus memegang jahitan itu, lalu ditarik-tariknya seperti hendak disobek. Mata Pannuto terbeliak keheranan : “Seorang ahli sulapkah muridku itu!?” Nyata kelihatan pakaian tersebut membesar. Ketika dikenakan oleh empunya, potongannya cocok sekali.
Berumur 16 tahun, sudah pandai dalam ilmu menjahit, Gerardus meninggalkan Muro dan akan melayani Uskup Claudius Albini di kota Lacedogma. Uskup itu seorang dermawan dan baik, akan tetapi mudah panas hati. Kata orang, tidak seorang pun pelayan yang tahan mengabdinya. Gerardus mengetahui hal ini, namun meski begitu diterimanya jabatan sukar itu, sengaja guna melatih kesabarannya. Maka yang dipilih Gerardus segera dialaminya.

Setiap hari seratus pesanan yang “penting” semuanya, pun disertai tegur hardik yang pasti agak menjemukan telinganya. Tetapi Gerardus tetap bertahan. Dan bila ada tamu yang menyatakan iba hatinya, Gerardus menjawab : “Oh, itu tak berharga bagiku, karena aku yakin paduka yang mulia Uskup Claudius mencintai aku sungguh-sungguh seperti seorang saudaranya.”

Sekali peristiwa, ketika Uskup Claudius berpergian, Gerardus menutup rumahnya menyimpan kunci dalam kantung, dan menuju ke sebuah sumur akan menimba air. Naas benar rupanya hari itu, waktu Gerardus membungkuk akan menimba, kuncinya jatuh kedalam sumur. Terkejut, Gerardus berseru : “Oh, alangkah marahnya tuanku nanti!”

Banyak orang yang juga ada di sumur menaruh belas kasihan kepadanya. Tetapi apa boleh buat, kunci telah lenyap dalam sumur yang dalam itu. Tiba-tiba Gerardus dengan tidak berkata sepatah pun langsung naik kuda dan pergi ke Gereja. Dari sakristi diambilnya patung kanak-kanak Yesus, dan kembali ke sumur tersebut. Patung itu ditidurkannya dalam timba, lalu diulurkannya tali itu dengan hati-hati sambil berdoa : “Bagimu Yesus tiada hal yang sulit, ambilkanlah aku kunci rumah majikanku!”

Orang yang hadir mengerumuni sumur akan melihat apa yang terjadi. Seketika timba itu masuk dalam air. Kemudian ditariknya kembali keatas. Berpuluh-puluh mata terbelak keheranan. Patung kanak-kanak Yesus itu tegak berdiri dalam timba, tetapi ... pada tangannya tampak kunci tersebut. Sejak hari itu sumur kota Lacedogma dinamai : “Pozzo Gerardiello”, yang artinya “Sumber Gerardus”.

Pada akhir bulan Juli tahun 1744 wafatlah yang mulia Uskup Claudius, ditangisi oleh Gerardus yang setia. Kemudian pulanglah ia ke rumah ibunya di kota Muro. Umurnya 18 tahun. Hanya satu dorongan masih dikenalnya, yaitu menyiapkan dirinya supaya dapat diterima sebagai calon biarawan.
Pada mulanya ibu Benedicta tidak menyetujuinya. Acap kali sangat khawatir, karena Gerardus terlampau dermawan dan terlampau keras dalam pantangan makan dan minum. Tapi Gerardus menghibur ibunya dengan perkataan yang lemah lembut, hingga ibu Benedicta tiada berani lagi melawan kehendak Tuhan atas nasib anaknya.

Hari sabtu tanggal 17 Mei tahun 1749 Gerardus berangkat ke kota Iliceto akan memulai Novisiat dari Biarawan Redemptoris. Dan meskipun sukma Bruder Gerardus selalu condong ke arah pesona doa, ia tak menuruti kehendaknya itu. Malahan bekerja membanting tulang sekuat-kuatnya sehingga pembesar biara dengan heran mengatakan : Bruder Gerardus, yang kurus kering lagi lemah kelihatannya, lebih giat daripada tiga orang bruder.

Karena pembesar biara khawatir kalau Bruder Gerardus akan terganggu kesehatannya, ia dipindahkan dari kebun ke sakristi sebagai koster. Alangkah senang hatinya! Sekarang bolehlah ia bersatu dengan Yesus. Ekaristi sepanjang hari. Cinta Bruder Gerardus meluap-luap, tiada puas jika belum turut menderita sendiri. Maka dipergunakannya bermacam-macam alat untuk menyakiti badannya, hingga rupanya pucat lesu kepayahan.

Namun hidup seorang suci ialah rahasia penuh kegaiban. Walaupun Bruder Gerardus berkeras kejam bagi dirinya sendiri, ia selalu berperasaan lembut terhadap sesamanya. Ya, boleh dikatakan Bruder Gerardus mengasihi semua orang kecuali ... Gerardus Mayella. Menderita akan berkenan kepada Tuhan, menderita tiada berkeputusan, itulah angan-angannya.
Para Biarawan kagum lagi ngeri menyaksikan cara Bruder Gerardus menyiksa tubuhnya. Ruang sempit, rendah lagi gelap dipilihnya untuk kamar tidur. Kasur berisi batu menyebabkan istirahat yang telah singkat tiada memberi kenikmatan sedikit juapun.

Sesudah gelap terbitlah terang, “Raja kegelapan” tidak menyetujui pepatah itu. Maka dikerahkannya laskarnya yang cerdik. Lalu bermufakatlah iblis akan mengancam, menggangu dan menyerang Bruder Gerardus sedapat-dapatnya. Terutama pada malam menjelang hari Jumat, kelicikan setan menghebat. Tapi Bruder Gerardus tiada putus asa. Pengharapannya yang hidup bertambah kuat. Dengan memercikkan air suci seraya membuat tanda salib dienyahkannya berjenis-jenis penjelmaan.

Pada suatu hari Bruder Gerardus berjumpa dengan seorang pemuda tidaj jauh dari kota Iliceto. Karena bermantel dan bertopi yang sudah usang, rupa bruder sudah lain.
“Seorang pandai dalam ilmu sihir.” Pikir pemuda itu, dan berkata : “Jika kamu mencari harta benda saya sudi menolong.”
Bruder Gerardus mengamat-amati pemuda yang kerjanya hanya memimpikan emas dan perak.
“Betul, kamu panjang akal dan pemberani?” tanyanya.
“Akh, kamu belum mengenal aku!” seru pemuda itu berlagak. Lalu diceritakanya keberaniannya pada burder.
“Baik!” sahut Gerardus, “Akan kutemukan bagimu harta benda yang tak ternilai.”

Sementara itu mereka telah tiba di antara semak belukar.
“Berhenti! Inilah tempatnya,” kata Gerardus. Ditanggalkannya mantelnya dan dibentangkannya.
“Berlutut!” perintah Gerardus. Lalu diambilnya sebuah salib dari jubahnya :
“Inilah harta benda yang hilang bagimu, karena kau tukarkan dengan yang rendah!”
Dan mulai saat itu bertobatlah orang itu.

Sekali lagi ketika Gerardus berkuda menuruni tebing gunung, ia dihentikan oleh seorang penyamun.
“Ha, sudah lama saya menantikan seorang biarawan untuk melepaskan dendamku!” teriaknya.
Bruder Gerardus meminta ampun, tetapi penyamun itu bertambah berang dan menjatuhkan bruder dari kudanya. Sadar bahwa permintaannya sia-sia, Gerardus berlutut dan mengatupkan tangannya sambil berkata :
“Pukulah, saudaraku, memang itu hakmu!”
Sekonyong-konyong penyamun itu sadar.
“Apa yang kulakukan?!” teriaknya
“Tolonglah aku” kata Gerardus mencoba bangkit.Sebuah tulang rusuknya patah, tetapi sepanjang jalan ia tidak mengeluh.

“saya jatuh dari kuda dan orang ini menolong aku,” jawabnya ketika ditanya apa yang terjadi.
Nama Gerardus mulai disebut-sebut orang. Mereka datang kepada Bruder Gerardus untuk meminta pertolongan dalam keadaan sukar. Dan acap kali berkat doanya, ia dapat menolong mereka. Pun si sakit sembuh sama sekali hanya oleh sentuhan tangannya. Hingga ... pencobaan terbesar mematahkan kesehatan Bruder Gerardus yang telah lemah itu.

Pencobaan berupa fitnah keji yang berulang-ulang yang ditujukan kepadanya, bagai gelombang laut mengancam batu karang. Pembesar biara terpaksa memindahkannya dari kota Iliceto ke kota Pagami.
Di kota ini, Bruder Gerardus dihukum berat, seberat-beratnya untuk jiwanya yang semesra mencintai Yesus dan Bunda Maria. Ia tidak diperbolehkan menyambut dan bergaul dengan penghuni kota. Para biarawan yang tetap masih percaya atas ketulusan hatinya berkata : “Buktikan kesucian maksud dan kelakuanmu!” Tapi Bruder Gerardus menjawab : “Tuhan ada! Lagipula apa aku harus menolak pengalaman yang mengikat diriku lebih erat dengan Yesus?! Tidak, biarlah terjadi padaku segala sesuatu menurut takdir Tuhan!”
Tiga bulan kemudian teranglah, bahwa Bruder Gerardus tidak bersalah. Maka sekali lagi pujian orang mendenging-denging di telinganya. Kini nyata bahwa Bruder Gerardus tahan terhadap segala pencobaan.
Namun kesehatannya semakin memburuk. Gejala penyakit pernapasan dalam paru-parunya, makin lama makin parah.

31 Agustus 1756, Bruder Gerardus jatuh sakit semakin parah. Demam panas menyusutkan tubuhnya yang lemah. Serangan setan menyiksa pandangannya, tampak olehnya roh jahat itu dalam rupa-rupa jenis. Namun, Pater Fiocchi yang tahu betapa taatnya Bruder Gerardus itu, menulis sepucuk surat :

-Janganlah kamu memuntahkan darah lagi. Saya harap kamu akan lekas sembuh-

Bruder Gerardus meletakkan surat itu pada dadanya, dan ...betul tanggal 6 September ia seperti sembuh lagi. Kuat berdiri, bekerja dan sebagainya. Seisi biara bersuka, tapi Gerardus meramalkan kepada teman-temannya : “Sebenarnya aku harus berpulang pada pesta Bunda Maria tanggal 8 September yang lalu. Dan sekarang tidak akan lama aku kembali bersama –sama di antara kamu.”

Pada tanggal 5 Oktober, Bruder Gerardus jatuh sakit lagi, gejalanya lebih hebat dari yang sudah-sudah. 15 Oktober waktu senja ia bertanya kepada perawat :
“Pukul berapa ini?”
“Pukul enam tepat,” jawab bruder perawat.
“Kalau begitu masih enam jam lagi saya tinggal di sini,” kata Gerardus sayup-sayup.
Begitulah terjadi, pukul 12 malam, rohnya yang suci berpisah dengan badannya.
Gerardus Mayella baru berumur 30 tahun, sedangkan tubuhnya sebenarnya sehat dan kuat, akan tetapi dirobohkan secepatnya oleh pantangannya yang hebat itu.

Hidup Gerardus Mayella penuh kegaiban, penuh mujizat yang mempesona banyak orang. Terutama pada akhir hidupnya ia dianugerahi Tuhan dengan berbagai jenis kekuatan ajaib.

Harum semerbak yang mengelilingi jasadnya seperti wangi-wangian yang menandakan bahwa seorang Serafin telah bersatu dengan yang Mahaluhur.

29Januari 1893, Bruder Gerardus Mayella yang rendah hati diberi gelar Santo, dan pestanya dirayakan pada tanggal 16 Oktober yaitu pada hari kematiannya.
Marilah berlindung pada Santo Gerardus Mayella yang sepandai mendayungkan biduk arwahnya dalam kesukaan batin yang tiada terhingga.


SANTA JOANA FRANCISCA FREMIOT DE CHANTAL

Posted by Lances On Wednesday, February 3, 2010 0 comments

Lahir di kota Diyon di negeri Perancis pada tahun 1572.

Hari itu juga si bayi dbawa ke Gereja untuk dipermandikan. Dan karena hari itu umat Katolik menghadapi hari pesta Santo Yoanes, maka bayi yang dipermandikan itu dinamai Joana.
Sayang, tak lama Yoana dalam asuhan ibunya yang baik itu. Dua tahun lampau meninggalah Margareta de Berbisy, ditangisi oleh para kaum miskin di kota Diyon.
Ayahnya, Benignus Fremiot, presiden parlemen pengadilan tinggi di Diyon, terkenal oleh jasanya terhadap Gereja, bangsa dan Raja, mendidik Joana. Dengan ayahnya yang bijak itu, Joana dapat mencapai keteguhan iman ketika dewasa.

Seorang pengasuh, dan kemudian beberapa guru terpilih olehnya, tetapi pendidikan rohani diusahakan sendiri oleh ayahnya sendiri, meski bagaimanapun sibuknya. Tiada heran juga karena pada masa itu iman negara Perancis sedang mengalami kesesatan yang menimbulkan perang saudara.
Joana seperti telah terbuka pengertiannya, bersusah hati mendengar kesesatan itu. Dan ayahnya tak pernah khawatir bahwa Joana akan mudah tersesat, karena perasaan gadis kecil itu halus, hingga rupanya sudah dapat menerka lebih dahulu siapa diantara tamu boleh disebut sebagai orang sesat.

Maklumlah, terutama golongan atasan tertarik oleh tipuan cerdik yang rasanya membebaskan mereka dari beberapa kewajiban berat. Para “Hugenot” demikian nama baru yang melambangkan pertentangan batin. Dan Benignus Fremiot, sebagai pejabat luhur, mau tak mau sekali-kali terpaksa berunding dengan mereka. Terpaksa pula mempersilahkan mereka berjamu ke rumahnya.
Joana si kecil molek, periang lagi jenaka, menarik perhatian para tamu itu. Kadang-kadang ada pula yang tak dapat menahan hatinya, ingin membelai-belai si kecil mungil. Tapi Joana tak suka menerima tanda kasih itu. Selalu ia lari masuk, menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan pengasuhnya sambil menangis tersedu-sedu. Beberapa kali terdengar pula gelak serta suaranya yang nyaring menjawab. Keheranan, pengasuhnya bertanya : “Engkau kenal tuan tadi itu, Joana?”

Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya sambil berseru : “Tidak, tapi tuan itu bukan Hugenot!”
“Bagaimana kau tahu hal itu, nak?”
Mata Joana membesar : “Bukankah saya peri Roh Suci?” sahutnya.

Pada suatu peristiwa ketika Joana belum genap berumur 5 tahun, seorang pejabat luhur yang Hugenot datang mengunjungi ayahnya.
Sesudah selesai mengupas soal pengadilan yang dianggap penting, pergilah mereka ke beranda seraya mempercakapkan hal ini dan itu. Tamu agung itu membangga-banggakan pendiriannya, berani bertentangan dengan Sri Paus di Roma. Diejeknya dengan penuh sindiran tentang Sakramen Mahakudus. Joana yang sedang bermain disana terkejut. Benignus Fremiot mengerenyutkan dahinya, dan mengatupkan bibir agar terpelihara rasa kesopanannya. Namun tiba-tiba Joana meloncat! Dan sambil mengancung-ancungkan jari kecilnya katanya : “Tuan, sabda Yesus, Dia hadir. Mengapa tuan tidak percaya? Itu sama dengan menuduh Yesus pendusta!”

Tamu agung itu tertawa terbahak-bahak. Sebenarnya ia merasa bersalah juga dan telah menyesali ketidak-sopanannya. Terang baginya Benignus Fremiot terhina olehnya dalam rumahnya sendiri. Sebab itu untuk menghalaukan suasana yang pedih itu diraba-raba sakunya. Sebatang cokelat tebal, kertasnya berwarna mengkilat dikeluarkannya dan diberikannya kepada Joana. “Nah ini nak! Engkau sungguh pandai!” Joana memegang cokelat itu dengan pinggiran roknya. Lalu ia berlari ke arah perapian yang sedang bernyala-nyala karena musim dingin telah tiba. Dilemparnya cokelat itu ke dalam api : “Lihat tuan, begitulah orang pelawan Tuhan akan dibakar di neraka, sebab tak mau percaya atas Sabda Tuhan.”
Tanu agung memohon diri dan pergi dengan perasaan malu karena olok-oloknya berakibat pada dirinya sendiri. Sedangkan di sudut bilik berlututlah Joana di hadapan Salib dengan hati yang iba bercampur amarah.

Lambat-laun tibalah waktunya bagi Joana untuk bersekolah. Namun perjuangan batinnya di Perancis makin genting. Maka Benignus Fremiot yang amat memperhatikan pekerti anaknya, memutuskan bahwa Joana akan belajar dirumahnya. Ayahnya mendatangkan ibu guru yang seiman, dan yang sanggup mengajar Joana mengenai beberapa ilmu yang layak dipahami oleh seorang gadis dengan pekerti yang mulia. Hanya Katekismus tetap menjadi mata pelajaran yang diberikan oleh ayahnya sendiri.

Kini terbukti dengan jelas bahwa Joana memang anak yang terang budi lagi kaya batin. Bukan hanya ilmu kepandaiannya saja, kerajinan serta kesenian dalam wujud seni suara, musik dan melukis pun sangat digemarinya. Oo, betapa bangga Joana ketika berhasil menyulam bantal perhiasan tangga altar.!
Tapi, tak terbilang banyaknya hasil kerajinan tangannya yang membuat pakaian untuk si miskin. Sungguh lemah-lembut sikap Joana terhadap mereka yang bersusah. Benih kebajikan warisan mendiang ibunya Margareta de Berbisy yang menjadi harta pusakanya pada kemudian hari. “Kukira aku tak akan sanggup lagi mencintai Tuhan, jika kuabaikan nasib para miskin!” katanya.

Makin besar makin terasa oleh Joana kesunyian seorang anak yang telah ditinggal ibunya. Di dalam kesunyian itu ia meraba-raba, mencari tempat berjejak. Maka datang dari dalam rohnya yang beriman teguh, membanjir keluar menghanyutkan gadis itu kedalam arus keinginan akan cinta mesra sang ibu.
Suatu ketika Joana berlutut di hadapan patung Bunda Maria. Seraya merentangkan kedua belah tangannya, berseru : “Oh Bunda, jangan lupa bahwa hanya Engkau yang kusebut Ibu!” sejak saat itu Joana selalu meminta berkat Bunda Sorgawi sebelum menentukan sesuatu. Dan begitu katanya : “Belum pernah Bunda Maria mengecewakan keyakinanku.”

Pada tahun 1587 menikahlah kakak perempuannya yang tertua. Tak lama lagi akan pindahlah kakaknya ke tempat suaminya, di sebelah Utara Perancis. Joana diajaknya ikut serta, dan ayahnya dibujuknya agar sudi melepaskan anaknya yang bungsu itu.
Benignus Fremiot menimbang baik buruknya. Joana meninggalkan Diyon. Joana cakap, nyata kelebihannya dari gadis-gadis lain. Dalam hati ayah acap kali memuji keberaniannya. Perasaan hormat tumbuh pada ayah terhadap ketetapan pendirian anaknya yang bungsu itu. Akhirnya Joana diperbolehkan ikut. “Sambil akan menguji kesetiaanmu terhadap yang benar!” kata ayahnya.

Maka Joana meninggalkan ayahnya dan pergi bersama kakaknya ke daerah Utara itu. Sungguh ujian baginya suasana daerah itu. Kemerosotan iman penghuninya lebih tampak jelas. Gereja sunyi bagai rumah tak berpenghuni. Pengkhianatan terhadap segala yang suci terus dilakukan. Tidak heran Joana kecut, segan berpergian, dan diam-diam mencari akal untuk memperbaikinya.
Sementara itu Benignus, terpaksa oleh jabatannya, beberapa kali harus ikut menyelidiki suatu perkara ke kota lain. Hingga 5 tahun lamanya Joana tinggal bersama kakaknya. Ketika keadaan mulai membaik dan ayah dapat tinggal di kota Diyon, Joana pulang ke rumah.

Tak mengherankan, jika seorang gadis yang seperti Joana mendengar panggilan Tuhan. Ya, memang itu juga cita-cita Joana. Memberi silih untuk mereka yang mengkhianati Sang Kristus. Namun Benignus Fremiot belum pernah memikirkan kemungkinan tersebut. Sebaliknya , ayah telah meninjau ke segenap penjuru kalau-kalau ada ksatria sejati yang setia terhadap Gereja, bangsa dan raja, yang dapat dipilihnya sebagai suami Joana.
Mujur jua, baru-baru ini ayah berkenalan dengan Christophorus de Rabutin (Baron de Chantal). Seluruh perhatian ayah tertarik oleh bangsawan muda itu. Untuk berunding dengan orang tua Baron de Chantal tidaklah sukar bagi ayah Joana.

Ketika Joana yang remaja itu tiba disisinya, ayahnya memaparkan ikhtiarnya yang telah berhasil. Mula-mula Joana terkejut. Ah apa yang akan dijawabnya? Tak sampai hatinya menolak permintaan ayah, dan merusakkan harapannya. Joana yang mencintai hukum Tuhan dengan sepenuh jiwa raganya, sangat menghormati ibu bapanya. Maka dimintanya beberapa minggu akan menyesuaikan dirinya dengan tugas baru ini. Lalu diterima oleh Joana tujuan hidup yang dianjurkan oleh ayahnya. Tahun itu juga 1592, pernikahan dilangsungkan dengan kebesaran, Joana menukar nama Fremiot dengan de Chantal dan turut pindah ke puri “Monthelon” rumah kediaman keluarga bangsawan de Chantal yang akan seharum bunyinya oleh jasa Joana. Di sini berakhirlah babak pertama kehidupan Joana sebagai seorang gadis.

Setibanya Barones de Chantal yang muda, puri Monthelon mengalami suasana yang serba baru. Kerapian yang tak mati atau suram karena kesukaan Joana akan bunga dan warna indah ditambah kegemarannya akan musik dan nyanyian merdu.
Namun tidak hanya tata tertib yang terbentuk baik-baik, suasana pergaulan di antara penghuni puri pun telah terbawa menurut corak cita-citanya yang luhur.

“Saya akan belajar mencintai kamu,” kata Joana kepada Christophorus sesudah menerangkan ketaatan niatnya terhadap keputusan ayahnya. Dan ucapan itu tiada hanya tinggal di mulut, pikiran atau perasaan saja. Dengan bersungguh-sungguh Joana berdiri disamping suaminya, mengerjakan apa yang telah mereka pikul bersama-sama, membawa sinar harapan baru dalam gelap gulita yang tebal. Joana berupaya merapatkan dirinya berjasa bagi daerah kediamannya. Ia mengajar anak-anak desa di sekitarnya. Kerap kali ia bertamu ke rumah orang-orang desa. Beberapa gadis remaja diajarinya menjahit, merenda dan sedikit pengetahuan umum. Dalam angan-angannya yang tinggi melambung telah membawanya ke seluruh daerah Monthelon kembali ke sang Juru Selamat.
Maka Tuhan menganugrahi mereka dengan enam orang anak. Dua meninggal pada umur bayi, sebagai ujian Tuhan akan ketaatannya. Tetapi empat lainnya sehat. Betapa teliti ibu Joana mendidik keempat permata mahkotanya itu.

Meskipun Baron de Chantal bukan termasuk golongan orang yang menghabiskan waktunya di lapangan olah-raga, tetapi berburu adalah kegemarannya. Pada suatu hari, pagi-pagi benar berangkatlah ia berkuda, disertai beberapa ekaor anjing berburu. Lengkap dengan senjatanya, dengan membawa makanan dan minuman. Senja hari, ketika matahari mulai membenamkan diri ia belum juga pulang. Joana merasa gelisah dan diutusnya dua orang pesuruh untuk menjemput suaminya. Tetapi pada waktu itu pula menghamburlah dua ekor anjing berburu itu masuk. Sambil melolong sedih ditariknya gaun Joana. Bersama-sama Baron de Chantal tua, dan pesuruh-pesuruh tadi, Joana berkuda mengikuti kedua anjing tersebut. Di tengah-tengah hutan hutan dekat pohon yang rindang mereka menemukan Christhoper terbujur kaku dijaga oleh kuda dan anjing yang lainnya. Bagaiman terjadinya malapetaka ini? Berbagai pikiran dan perasaan mangacau jiwa mereka. Tetapi, hal ini akan tetap menjadi rahasia karena orang yang dicintainya yang telah melalui gerbang akhirat tiada sanggup menjelaskan lagi ...

Joana berkabung, tidak seperti orang yang putus asa, namun sebagai seorang janda mulia yang yakin akan bertemu lagi di dunia abadi kelak. Kini Joana menyembunyikan diri di puri Monthelon hanya untuk mendidik keempat anaknya dan sebagai seorang juru rawat yang lemah lembut, karena sejak kematian anaknya, Baron de Chantal tua, yang telah berusia lanjut, sakit-sakitan. Matanya yang lesu agak bersinar dan senyum simpul sayup-sayup membayang pada raut mukanya jika Joana datang melayani. Itu semua terjadi pada tahun 1601 ketika Joana baru berumur 28 tahun.

Tiga tahun kemudian Joana berkenalan dengan seorang pastor yang saleh, Fransiskus dari Sales namanya. Kepada pastor itu Joana berani mengatakan keinginan hatinya, yang semenjak menjadi janda berkoar-koar lagi dalam kalbunya. Jelas baginya panggilan Tuhan yang mengajaknya hidup membiara. Tetapi Fransiskus dari Sales pura-pura tidak mengerti. Maksudnya hendak mencoba kesetiaan hati yang teguh itu. Baru setelah Baron de Chantal tua meninggal dan anak-anak Joana tidak lagi membutuhkan ibunya, Fransiskus sudi membantunya melaksanakan cita-cita Joana itu.

Pada waktu itu Fransiskus dari Sales telah diangkat menjadi Uskup kota Geneve. Sebab itu dapatlah beliau mengizinkan Joana mendirikan biaranya yang pertama di kota Annecy pada tahun 1610. Tujuan yang utama adalah memberi pertolongan kepada mereka yang sedang bersusah karena sakit atau lanjut usia, pun memelihara anak-anak terlantar.

Tentu saja Joana menjadi buah tutur banyak orang, terlebih dari golongan luhur. Agaknya Barones de Chantal tiada beres pikirannya. Mereka yang menganggap “bahagia” sama dengan “hidup senang-senang” memang tiada dapat merasakan perasaan dan perjuangan dalam hati Joana. Maka dengan tidak mengindahkan pujian atau celaan, Joana berupaya sekuat-kuatnya di bawah pimpinan Uskup Fransiskus, dan menurutkan nasehat-nasehat dari Santo Vinsensius A Paulo yang bersahabat dengan Santo Fransiskus de Sales. Tiga puluh tahun lamanya Joana bekerja sebagai ibu pemimpin bala Cinta Kristus, yang kini masih berjasa suster-susternya.

13 Desember 1641, Joana yang pada waktu itu tinggal di kota Moulins, berpulang. Biara Annecy sudah menyebarkan cabang-cabangnya ke 87 biara di kota-kota lain.

Berpulang, tetapi cita-citanya tetap tinggal hidup di antara suster-suster penganutnya. Hingga kini masih melingkar kenang-kenangan dari ibu Joana Francisca Fremiot de Chantal dengan anyaman pengertian dan penghargaan batin yang halus, patuh dan tekun adalah senjata utama dalam melasanakan cita-cita mulia.


SANTO EDMUND CAMPION - Dan Anak-Anak yang Tidak Terkalahkan.

Posted by Lances On 0 comments

Pagi hari di musim semi yang indah pada tahun 1581 … Empat orang anak laki-laki memandang keluar jendela tingkat atas dari rumah bertingkat dua, Blainscough Hall, yang terletak di dekat Standish di Lancashire. Thomas yang tertua berumur 13 tahun, kemudian Robert, Richard dan akhirnya yang paling kecil, John yang berumur 8 tahun.

“Lihat, itu mereka disana!” katanya kegirangan. Memang betul, 3 orang terlihat sedang menuju kemari melalui jalan di mana pohon-pohon chestnut sedang bersemi, dan menuju ke kebun yang indah dari rumah itu. Dua orang dari mereka ialah seorang tuan dan seorang nyonya yang berumur kira-kira setengah abad dalam pakaian model jaman Elisabeth. Sedangkan yang seorang … sederhana, bahkan agak kumal pakaiannya.

“Ah, dia memakai pakaian pelayan!” anak kecil itu melanjutkan dengan nada yang kecewa.
“Ya, kamu tahu bahwa ia harus menyamar, bodoh!” jawab Thomas, kakaknya dengan cepat.
“Apabila ia tertangkap … ia akan dibawa kepenjara, disiksa dan mungkin dihukum mati di Tyburn,” jawab Robert.
“Saya tahu semua itu!” jawab yang kecil dengan marah.
“Tetapi paman Thomas dan pater yang bersembunyi disini, biasanya berpakaian seperti seorang tuan atau pedagang.”
“Penyamaran ini barangkali yang paling baik,” kata Thomas. “Mata-mata Negara tersebar kemana-mana. Marilah kita bersiap-siap menyambut mereka.”

Keempat anak laki-laki itu berlomba-lomba ke bawah lewat pintu menuju ke ruang tamu. Keributan karena kegirangan itu berhenti ketika orang tua mereka masuk ruang dengan tamu-tamu, nyonya dan tuan terhormat, dan yang seorang, pelayan itu, cakap dengan pandangannya yang tajam. Tiap-tiap anak yang diperkenalkan, berlutut untuk menerima berkat dari pater Serikat Yesus yang terkenal ini : pater Edmund Campion, yang sedang dicari-cari oleh pengejar-pengejar para imam. Karena pada waktu itu adalah saat yang menakutkan bagi orang-orang Katolik di Inggris, di bawah pemerintahan ratu Elisabeth, Earl dari Leicester, Lord Burghley dan lain-lainnya yang diputuskan untuk melenyapkan sisa-sisa dari agama Katolik, dan sebaliknya untuk membangun sekolah mungkin dengan ajaran yang lain, dengan Ratu Elisabeth sebagai pemimpin dari Gereja Inggris, dan bukannya Paus.

Korban Misa telah dianggap melawan hukum Negara, dan pastor-pastor dilarang tinggal lagi di Inggris. Sedangkan mereka yang melindungi pastor-pastor itu atau mempergunakan rumah mereka untuk Misa, seperti misalnya Richard Worthington dari Blainscough Hall itu, dapat dihukum penjara, denda atau disita kekayaannya. Meskipun begitu, keluarga Worthington sangat bangga memikul resiko itu, bergembira karena Pater Edmund dapat bersama mereka, pada Paskah tahun 1581 ini. Sore hari sebelumnya, anak laki-laki itu telah mengajukan bermacam-macam pertanyaan tentang tamu yang mereka tunggu itu, sehingga ayahnya memutuskan jalan yang paling mudah yaitu menceritakan riwayatnya.

“Nah, Pater Campion dilahirkan pada tahun 1540, jadi kini ia berusia 41 tahun” mulainya.
“Ia adalah putera seorang penjual buku di London, bukan ayah?” sela Thomas.
“Dan ia bersekolah di Christ’s Hospital dan St. John’s Collage di Oxford!” kata Robert tak mau kalah.
“Nah, saya atau kaliankah yang akan berceritera,” Tanya ayahnya dengan tersenyum, dan menambahkan : “Ya, kalian benar. Di Oxford ia menjadi sarjana, dan ketika Ratu Elisabeth mengunjungi tempat itu, ia demikian tertariknya akan pidatonya yang dibuat untuk menyambut sang ratu, sehingga ratu mengirimkan orang kesayangannya, Earl dari Leicester, untuk mengatakan padanya bahwa ratu membutuhkan pembicara yang pandai seperti dia, sebagai pemimpin dari ajaran yang baru itu. Ini berarti bahwa ia akan menjadi cepat kaya dan berkuasa.”

“Tetapi saya kira ia seorang Katolik.” Lanjut John.
“Ia belumlah seorang Katolik pada waktu itu. Sebagai sarjana ia tidak menganggap agama sebagai hal yang penting, dan banyak sahabat karibnya termasuk dalam partai Ratu. Demikianlah ia bertemu dengan Earl dari Leicester itu, dan ia pun bahkan ditahbiskan. Kemudian tibalah waktu yang penting, yaitu ia harus memutuskan apakah setuju atau tidak pada agama Katolik. Ia diminta untuk berkhotbah atas nama ajaran baru itu di Gereja Saint Paul di London.”
“Tetapi ketika tiba waktunya, ia menyadari bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang akan dianutnya, bukankah begitu ayah?” teriak Thomas.

“Ia menetapkan untuk memutuskan persahabatannya dengan Leicester. Ia melepaskan karirnya dan keluar dari Oxford, bukan ayah?”
“Ah, saya kira itulah suatu keputusan yang hebat!” teriak John.
“Memang demikian,” ayahnya menyetujui.
“Nah, sekarang dari Oxford ia pergi ke Irlandia di mana ia menyebutkan dirinya tuan Patrick.”
“Tetapi … mengapa ayah?”
“Lord Burghley … dan lebih terkenal dengan sebutan Sir William Cecil pada waktu itu … adalah salah seorang pengikut Ratu, yang marah karena kehilangan orang terpandai itu. Beliau menyuruh orang-orang mengejar penghianat Campion itu. Tetapi mereka tidak berhasil menangkapnya. Karena ketika Pater Campion mendengar tepat pada waktunya bahwa mereka dalam perjalanan untuk menangkapnya, ia menumpang sebuah kapal ke Flandria. Mereka sesungguhnya mencari ditempat itu, tetapi tidak menemukannya.”

“Bagaimana mungkin, ayah. Di manakah ia bersembunyi?”
“Ia tidak bersembunyi, tetapi mereka mencari seorang sarjana yang berpakaian bagus, sedangkan ia menyamar sebagai pelayan, yang majikannya adalah pembantu Earl dari Kildare. Di sana ia berdiri dan setiap orang dapat melihatnya dalam pakaian pelayan yang kumal, demikian cerita orang. Sangat tolol dan bodoh!”
Mereka tertawa geli sementara sang ayah melanjutkan : “Bagaimanapun juga, karena rahmat Tuhan, sesudah lewat Inggris ia mendarat dengan selamat di Douay.”
Anak-anak itu tahu bahwa Douay adalah sebuah kota di Flandria yang melindungi pelarian-pelarian Katolik. Mereka tahu juga bahwa seorang Pastor bernama Dr Allen, telah memulai sebuah perguruan di sana untuk mahasiswa-mahasiswa Inggris sehingga kenudian mereka dapat kembali ke Inggris sebagai Pastor Missionaris. Resikonya : penganiayaan dan kematian apabila tertangkap.

“Mula-mula Pater Campion mengajar sebagai professor, kemudian ia pergi ke Roma di mana ia bergabung dengan Serikat Yesus. Sebagaimana kamu ketahui, ia kembali mendarat di Dover (Inggris) bulan april 1580, setahun yang lalu.”
“Dan apakah yang telah dikerjakannya sejak waktu itu?” Tanya mereka ingin tahu.
“Kita harus meminta beliau untuk berceritera apabila beliau datang,” jawab ayahnya sambil tersenyum. Dan sekarang benar-benar orang Yesuit yang terkenal itu ada dirumah mereka. Mereka menjadi sangat girang ketika pada jam 11 waktu makan, ia mulai menceritakan pengalaman-pengalamannya yang berbahaya dan menarik itu.

“Hal yang pertama kali saya lakukan ketika mendarat di Dover adalah berlutut di belakang sebuah batu untuk memohon berkat Tuhan atas misiku, tetapi tiba-tiba aku malah ditangkap, dibawa kehadapan walikota, dan dituduh sebagai saudara Dr Allen.”
Anak-anak itu menjadi kaget, dan Pastor Campion melanjutkan ceriteranya : “Terhadap tuduhan itu aku menjawab, aku akan bersumpah bahwa aku bukanlah Gabriel Allen. Aku berdoa dengan sungguh-sungguh kepada pelindungku, Yohanes Pembaptis, dan kemudian suatu hal aneh terjadi, mereka melepaskan aku pergi!”

Pendengar-pendengarnya menarik nafas lega dan John dengan sangat girang berseru : “Pater, tahukah Pater bahwa kemenakan-kemenakan Dr Allen tinggal disini di Lancashire. Mereka adalah teman-teman kami. Eleanor, Catherine dan Mary. Mereka juga mengadakan Misa di rumah mereka. Tetapi Mary belum menerima Komuni Pertama.”
“Jangan keras-keras!” bisik saudara-saudaranya dengan marah, sementara ayah dan ibunya juga melihat padanya dengan tidak setuju. Tetapi Pastor Edmund hanya tersenyum sambil berkata : “Saya berhasil mencapai London. Sejak itu saya telah berkelana dimana-mana, kadang-kadang sebagai tuan Edmund, pedagang permata yang kaya dengan kuda dan pelayan, dan kadang-kadang sebagai pelayan seperti sekarang ini. Tetapi sepanjang waktu itu, karena kemurahan Tuhan, saya tetap merdeka dan dapat memberikan sakramen-sakramen secara rahasia kepada orang Katolik atau memenangkan jiwa atas kepercayaan mereka.”

Keesokan paginya kapel dari Blainscough Hall penuh dengan orang-orang Katolik yang datang dengan sembunyi-sembunyi lewat kebun, ingin mendengarkan khotbah Pater Edmund Campion. Sesudah itu Nyonya Allen yang tinggal dekat mereka, mengundang Pater Edmund untuk tinggal bersamanya di Ross Hall. Karena tahu bahwa ia adalah seorang janda yang tidak ada suami untuk melindunginya, Pastor Edmund menjawab dengan sedih : “Aku tahu betapa kuatnya kepercayaanmu. Aku telah mendengar bahwa pada suatu kali 12 orang pastor sekaligus berlindung di Ross Hall. Tetapi anda menyadari bukan, bahwa untuk berbuat semacam itu, anda menghadapi resiko penyitaan harta oleh pengikut Ratu?”
“Ya pastor, saya tahu. Tetapi sesungguhnya penyitaan semacam itu tidaklah sah karena suamiku mewariskan Ross Hall untuk anak-anak kami!” Sementara itu ketiga putrinya sedang bercakap-cakap dengan teman mereka … keempat putra Worthington.

“Aku sangat berharap bahwa pengejar-pengejar pastor tidak datang mencari kesini sementara Pater Edmund sedang bersama-sama dengan kita,” kata Thomas dengan nada Khawatir. “Kalau mereka menanyai kami, mereka tidak akan mendapat jawaban apa-apa,” kata Robert.
“Kami akan setia sampai mati!” kata Richard menambahkan.
“Apabila mereka datang pada kami, kami pun akan melawan mereka juga!” seru Eleanor.

Pastor Edmund melewatkan beberapa minggu berikutnya antara Blaincough Hall dan Ross Hall dengan pakaian seperti pelayan. Kecuali apabila mempersembahkan Misa ia memakai jubah yang disimpan pada tempat persembunyian dengan piala suci. Betapa menyenangkan masa Paskah pada waktu itu, dengan Mary Allen dan anak yang akan menerima komuni pertama, orang-orang dewasa yang berkumpul untuk menghadiri misa dan mendengarkan khotbah.

Pater Edmund menekankan pada diri mereka akan kebutuhan lebih banyak pastor yang ingin mengorbankan jiwa mereka untuk mencegah supaya Inggris tidak kehilangan kepercayaan sama sekali. Kini anak-anak Worthington itu sedang menikmati hidup di alam bebas, menunggang kuda, berburu dan menembak bebek. Tetapi mereka sangat terpengaruh oleh kata-kata Pater Edmund sehingga mereka merasa telah menyerahkan kehidupan mereka yang bahagia itu.

Pada suatu hari Thomas datang tergesa-gesa : “Pater Edmund,” serunya. “Ia telah ditangkap! Aku mendengarnya di desa!” Minggu pagi, dua orang mencarinya. Seorang diantaranya mengatakan betapa rindunya ia untuk menghadiri Misa. Nah, tampaknya tukang masak Elliot, seorang Katolik, sehingga ia mengaku bahwa Misa akan diadakan dengan rahasia oleh Pater Edmund sendiri. Begitu Ceritera Thomas. Keluhan sedih terdengar sementara Thomas melanjutkan : “Ketika tukang masak itu sedang meminta ijin dari nyonya rumah, orang yang lain itu menyelinap pergi kepada yang berwajib. Elliot mengikuti Misa kemudian ia pergi. Ketika mereka sedang makan terdengarlah tanda bahaya.” Thomas berhenti sebentar.

“Teruskan!” kata pendengar-pendengarnya.
“Tampaknya ada Cukup waktu bagi Pater Edmund dan dua orang pastor lainnya untuk bersembunyi, sebelum sekelompok orang bersenjata menyerbu masuk.” Tiap-tiap orang menahan napas dengan khawatir ketika ia melanjutkan : “Mereka menghabiskan waktu sehari untuk menggeledah, merobohkan tembok dan merusak segala sesuatu. Keesokan paginya mereka memutuskan untuk berhenti. Kelihatannya Pater Edmund dan dua koleganya itu akan selamat, tetapi tepat ketika perusak-perusak itu pergi, Elliot sendiri yang memerintahkan supaya dinding di atas pintu masuk dirobohkan.”

“Yudas!” kata ayah mereka dengan pedih.
“Ya, dan bukan hanya Yudas saja … ia juga seorang pembunuh,” anaknya melanjutkan. Begitulah kata-kata orang di desa : seorang pembunuh yang mendapatkan ampun dari Earl Leicester supaya, dengan merubah agamanya dapat berlaku sebagai mata-mata terhadap orang Katolik.

Keluarga Worthington … keluarga Allen, dan semua orang Katolik di Inggris sangatlah sedih, mengetahui Pater Edmund telah ditangkap musuh-musuhnya. Pada hari-hari berikutnya yang penuh dengan ketegangan, mereka menjadi sedih ketika tahu bahwa ketiga pastor itu sedang di bawa ke London. Tak mungkin ditolong.

Lengan mereka diikat ke belakang pada topinya ditulis : “Campion si penghianat”. Penduduk di tepi jalan menyambut mereka dengan olok-olokan dan ejek-ejekan. Kemudian mereka mendengar bahwa Pater Edmund ditahan di Tower (Penjara Menara), suatu tempat yang mengerikan yang sring disebut pula “Little Ease” dimana hamper tidak ada tempat untuk duduk betul atau pun berdiri santai. Pada hari keempatnya Pater Edmund dibawa ke Leicester House. Dalam keadaan lelah, lesu, dan sedih untuk menghadapi Ratu, Duke of Bedford dan Earl dari Leicester.

Atas pertanyaan-pertanyaan mereka, ia menjawab dengan sederhana bahwa kedatangannya ke Inggris hanya untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan ia tetap mengakui Ratu Elisabeth sebagai atasannya dalam hal-hal duniawi.
“satu-satunya kejahatan, tetapi cukuplah sudah, adalah bahwa engkau iman Katolik,” kata mereka.
“Dan itulah kemuliaanku yang terbesar,” jawab Pater Edmund. Ia dibawa kembali kemenara, disiksa … dan kemudian dituduh sebagai kepala komplotan untuk menolong orang-orang asing menjajah Inggris. Tuduhan tersebut disangkal mati-matian, karena itu tidak benar. Tetapi tetap dianggap bersalah sebagai penghianat, sehingga ia dijatuhi hukuman gantung di Tyburn.

Pater Edmund masih mencoba meminta supaya kedua temannya, pastor Ralph Shehurin dan pastor Alexander Briant yang juga dari Serikat Yesus, dibebaskan namun tidak berhasil. Untuk 11 hari lamanya menunggu saatnya yang terakhir, saudara perempuannya datang untuk memohon padanya agar melepaskan kepercayaannya sehingga ia akan dibebaskan. Sedangkan Elliot pun datang padanya untuk memohon pengampunan daripadanya.

Pada 1 Desember 1581 … dengan ditelentangkan pada sebuah papan yang diikat pada seekor kuda; Pater Edmund ditarik dari Tower agar lebih menderita, dibawa ke tempat penggantungan di Tyburn dan kemudian digantung sampai mati. Kata-katanya yang terakhir : “Saya seorang Katolik dan seorang imam Katolik … dalam kepercayaan itu aku … telah hidup dan dalam kepercayaan itu pula aku akan mati.” Bersama dengan dia pastor Shehurin dan pastor Briant ikut dihukum gantung.

Ada saksi yang memberitakan bahwa karenanya samapai 4000 orang Anglikan kembali ke Gereja Katolik. Demikian Pater Edmund Campion … menjumpai kemuliannya.